BPJS Kesehatan Diperkirakan Defisit 28 Triliun, Pemerintah Naikan Iuran?

Rodi Ediyansyah

Lampung.co – Isu kenaikan iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menghangat usai BPJS Kesehatan diprediksi mengalami defisit anggaran mencapai angka Rp28 Triliun hingga akhir tahun nanti.

Seperti dalam laporan CNN Indonesia, selain suntikan modal, sebetulnya ada cara agar defisit tersebut tidak benar-benar membengkak. Yakni, dengan mengerek iuran peserta program.

Mengacu pada UU nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional disebutkan bahwa iuran merupakan satu-satunya jalan untuk menambah penerimaan agar bisa menambal defisit.

Kemudian pasal 161 Peraturan Presiden nomor 82 tahun 2018 tentang jaminan kesehatan juga menyebutkan bahwa besaran iuran harus ditinjau setiap dua tahun.

Saat ini besaran iuran BPJS Kesehatan sebesar Rp25.500 untuk layanan ruangan kelas III, Rp51.000 untuk kelas II dan Rp80.000 untuk ruang perawatan kelas I.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mempertimbangkan untuk merevisi iuran BPJS Kesehatan demi menyelamatkan dari jurang defisit sebesar Rp 28 triliun.

Hanya saja, kata Sri Mulyani, langkah terpenting yang harus dilakukan BPJS Kesehatan adalah membenahi sistem pelayanan secara menyeluruh.

“Kalaupun semua (perbaikan sistem) sudah dilakukan tetap kita harus review masalah tarif ini,” ujarnya di Gedung BI, Jakarta, Selasa (30/7/2019) lalu dipetik dari detikFinance.

Menurutnya perlu ada keseimbangan antara berapa tarif yang harusnya dipungut untuk berbagai segmen masyarakat yang ikut BPJS, mengingan terdapat beberapa segmen yang berbeda. (*)

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer