Menu

Alasan Kerusakan Bumi, Sejumlah Perempuan Tak Ingin Memiliki Anak

  Dibaca : 245 kali
Alasan Kerusakan Bumi, Sejumlah Perempuan Tak Ingin Memiliki Anak
Ilustrasi ibu hamil | Foto: Ist.

Lampung.co – Perubahan iklim global merupakan malapetaka yang telah nampak, itu nyata terjadi dankondisinya semakin memburuk. Penyebabnya adalah ulah manusia itu sendiri

Pada bulan September 2016, level karbon di atmosfer Bumi akhirnya mencapai titik kritis, sesuatu yang jauh-jauh hari diperingatkan oleh kalangan ilmuwan.

Kendati fakta-fakta di lapangan menunjukan perubahan iklim sebagai isu yang tak bisa dianggap sebelah mata, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat meremehkan hal itu.

Cuitannya melalui akun twitter, Trum mengatakan pemanasan global adalah konsep yang diciptakan oleh Cina untuk mengurangi daya saing produk buatan AS.

Bahkan, Trump mengangkat Myron Ebell, seseorang yang getol menyangkal perubahan iklim, untuk mengawasi proses transisi Badan Perlindungan Lingkungan Amerika (EPA).

Kondisi menyedihkan dari seorang pemimpin negara adi daya ini jelas tidak menguntungkan bagi kita, bahkan masa depan anak-anak kita kelak.

Sebuah riset pada 2008 menunjukkan bahwa anak cucu kita akan jadi generasi yang menanggung konsekuensi terburuk perubahan iklim, bukan kita yang menjadi korban utama.

Dua orang peneliti dari Oregon State University itu juga menyebutkan bahwa 9.441 ton karbon yang ditambahkan manusia ke atmosfer oleh setiap anak yang dilahirkan.

Melihat kondisi lingkungan yang sangat mengkhawatirkan ini, sejumlah perempuan mulai mempertimbangkan rencana mereka untuk memiliki anak.

Harriet Spark, yang bekerja sebagai koordinator media dan instruktur diving di Australia, adalah salah satu dari perempuan yang mempertimbangkan hal itu.

“Aku bekerja di ranah advokasi isu-isu lingkungan. Jadi saban hari, aku terbiasa membaca banyak tulisan tentang isu-isu yang dihadapi dunia sekarang,” kata Spark kepada Broadly.

Terdapat dua alasan yang mendasari Spark untuk memutuskan tak memiliki anak. Pertama, dia tak ingin melahirkan anak yang kelak akan hidup di bumi yang sudah rusak.

Kedua, dia juga tak ingin menambah beban Bumi dan mempercepat habisnya sumber daya Bumi dengan menambah jumlah manusia.

“Kedengerannya dramatis banget ya, tapi aku cuma bersikap realistis saja sih. Cara manusia hidup saat ini membuat Bumi tak bisa menampung lebih banyak orang lagi,” ujarnya.

Selain itu, seorang penulis berumur 40 tahunan yang bermukim di New York City, Stefanie Weiss juga memutuskan untuk hidup tanpa anak karena alasan yang sama.

“Beberapa tahun lalu, aku pernah membaca sebuah penelitian. Dalam penelitian tersebut, tertera sebuah angka 9.441,” ujar Weiss merujuk hasil penelitian pada 2008 itu.

Menurutnya, itu adalah angka jumlah ton karbon yang ditambahkan manusia ke atmosfer untuk setiap anak yang kita lahirkan. Dan jumlah karbon itu tak bisa diturunkan.

“Ini yang membuat saya memutuskan tak punya anak,” imbuhnya. (*)

Iklan Baris
Wooww... Undangan Pernikahan Murah Hanya Rp. 950. Telp/WA: 0857-8976-8640

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Banner Ads

- Iklan Layanan Masyarakat -
-Marhaban Ya Ramadhan-


Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional