Menu

40 Tahun Tak Kenal Orang Tua Kandung, Ternyata Ibu Pria Belanda Ini Asal Lampung

  Dibaca : 526 kali
40 Tahun Tak Kenal Orang Tua Kandung, Ternyata Ibu Pria Belanda Ini Asal Lampung
Andre Kuik saat bertemu ibu kandungnya | Foto: Istimewa

Lampung.co – Kisah haru terjadi pada pria Indonesia yang sudah menetap sejak 4 hari ketika lahir, dan kini usianya sudah 40 tahun. Pria Indonesia itu pun tak kenal siapa sosok orangtua kandungnya, dialah Andre Kuik.

4 hari setelah lahir, Andre diadopsi warga Belanda dan menetap di negeri Kincir Angin hingga usianya yang kini menginjak kepala empat. Andre pun telah menikah dengan sosok wanita berkewenagaraan Belanda dan telah memiliki seorang anak.

40 tahun tanpa mengetahui orang tua kandungnya. Kini Andre Kuik berhasil bertemu ibu kandungnya tersebut bahkan beserta keluarganya. Ibu kandungnya berasal dari Lampung.

Kisah ini pun mengharukan. Berikut fakta-fakta soal kisah Andre Kuik yang berhasil bertemu ibu kandung dan keluarganya di Lampung dari BBC Indonesia dilansir Tribun Jateng.

Andre Kuik dari ibu kandungnya yang diketahui bernama Kartini. Kartini hanya sempat menggendong dan menyusui Andre ketika baru lahir hingga berusia 4 hari pada Februari 1978 silam.

Andre memiliki kakak kandung bernama Wely dan Untung. Serta seorang adik bernama Dewi Agustina.

“Seneng banget, anak hilang iso ketemu meneh (bisa bertemu kembali), iso balik meneh (bisa kembali lagi), anak lanang bisa balik (anak laki-lakiku bisa kembali),” kata Kartini dalam bahasa Indonesia dan Jawa.

Ayah Andre bernama Theo Kohler, yang diperkirakan memiliki darah campuran Jawa dan Eropa, mendesak Kartini untuk meninggalkan anak laki-laki ketiganya di rumah sakit Panti Secanti, Gisting Lampung.

Sebagai seorang ibu, Kartini sempat kembali lagi ke rumah sakit bersama dua anaknya Wely dan Untung, namun tidak dapat menemui anaknya.

“Katanya udah nggak bisa ketemu, sampai di rumah saya ngomong sama suami, marahlah kok ibu ga boleh ketemu anaknya, suami diam saja,” ungkap Kartini.

Sampai saat itu, dikenangnya, dirinya sudah tidak pernah mendengar lagi kabar anak ketiganya tersebut. Bahkan, belum sempat ia beri nama. Kartini pun mengaku, bahwa dirinya sempat ingin mencari tahu dimana anak ketiganya dibawa pergi.

“Saya sempat sakit mikirin anak hilang,” kenang Kartini.

Bahkan, usahanya untuk bisa bertemu dengan anaknya terus ia perjuangkan. Dirinya berusaha terus menerus bertanya kepada sang suami mengenai keberadaan anaknya yang kini diketahui bernama Andre tersebut. Namun, suaminya tak pernah menjawab, dan Kartini tak pernah mendapatkan jawaban.

Naas lagi, bagi Kartini. Saat dirinya hamil anak keempat, suaminya justru meninggalkan Kartini dan hingga kini tak lagi mendengar kabarnya. Cerita pun bersambut, Andre ternyata diadopsi Warga Belanda saat Usia 5 Bulan.

Pada usia lebih dari empat bulan, Andre diadopsi warga Belanda Jan Kuik dan Mieke Kuik. Dalam dokumen adopsi dan akta notaris, orang tua angkat Andre mendapatkan anak angkatnya dari Yayasan Pangkuan si Cilik di Jakarta yang dipimpin oleh Lies Darmadji pada 23 Juni 1976.

Tak jelas bagaimana Andre bisa berada di Yayasan tersebut ketika masih bayi. Dari Jakarta, Andre dibawa pasangan Kuik ke Den Ham Belanda. Di sana Andre dibesarkan bersama kakak angkat laki-laki dan perempuan asal Thailand dan adik angkat dari Indonesia.

Andre pun tumbuh kembang di Belanda. Seiring tumbuh dan dewasa, Andre pun ingin sekali bertemu dengan orangtua kandungnya. Bahkan, seringkali terbersit pada benak Andre untuk mengetahui soal orangtua kandungnya serta keluarganya.

Lalu, tepatnya pada 2013 lalu, Andre dan Marjolein berkunjung ke Indonesia dan dia menyempatkan diri ke Lampung. Kunjungan pertama ke negara asalnya itu meninggalkan kesan mendalam.

“Saya merasa saya berada di komunitas saya sendiri, warna kulit saya sama, keramahan, dan itu terasa mendalam pada diri saya,” ungkap Andre.

Setahun berikutnya, Andre dan Marjolein sempat mencari orang tuanya lewat para suster di Rumah Sakit Panti Secanti tempat dia lahir. Meski sempat bertemu dengan seseorang yang mengenal ayahnya, dia tak berhasil menemukan keluargannya.

“Suster di klinik tempat saya lahir, menawarkan diri untuk ikut mencari, kebetulan ada kenalan dari orangtua saya di Gisting, Lampung, dia bisa sedikit cerita tentang orang tua saya,” jelas Andre.

Namun pertemuan dengan kenalan ayahnya di masa muda tak memberinya petunjuk berarti untuk dapat menemukan orang tuanya.

“Selain itu, kami sempat juga berhubungan dengan beberapa orang lain untuk mencar, karena tak mendapat petunjuk yang jelas, lalu kami berhenti mencari,” kata Marjolein.

Meski begitu, Andre tetap menyimpan keinginan bertemu dengan orang tua kandungnya, terutama setelah kelahiran putranya yang kini berusia 1,5 tahun. Hingga pada akhirnya, di akhir 2017, Andre mendengar kabar dari rekannya di Belanda yang berhasil bertemu dengan orang tua kandungnya di Indonesia.

Peristiwa itu membuat Andre kembali melakukan pencarian dengan bantuan Yayasan Mijn Roots.

“Saya berusia 40 tahun dan saya menganggap orang-orang di sini tidak berumur panjang, saya pikir kalau saya tidak menemukan mereka sekarang, kapan lagi,” jelas Andre.

Berbekal dokumen adopsi dari orang tua angkatnya, pencarian keluarga kandungnya pun dimulai. Hingga akhirnya, ia bertemu ibu kandungnya usai tes DNA.

“Kalau dokumen tidak begitu jelas, namun kita dapat informasi dari orang-orang yang waktu itu pernah tinggal dengan orang tuanya, kami merasa yakin dapat menemukan itu,” jelas Eko Murwantoro, tim pencari orang tua kandung dari Yayasan Mijn Roots.

Untuk memastikan Kartini merupakan orang tua Andre, Yayasan Mijn Roots melakukan tes DNA dan hasilnya positif. Andre merupakan salah satu dari 24 anak adopsi warga Belanda yang berhasil kembali bertemu dengan keluarga mereka melalui bantuan Yayasan Mijn Roots.

Andre pun tak dapat menahan tangis ketika pertama kali bertemu ibu kandungnya, setelah 40 tahun. Bagi Andre Kuik dan pasangannya, Marjolein Wissink, perjalanan ke Lampung pada pertengahan April lalu, merupakan yang ketiga kalinya.

Saat ini Andre telah mengetahui bahwa dia memiliki dua kakak laki-laki Wely dan Untung serta seorang adik perempuan Dewi Agustina. Salah satu kakaknya, Untung telah meninggal saat masih kecil karena sakit.

“Kalau wajahnya mirip sama ayahnya,” kata Kartini sambil menatap wajah anaknya yang ketiga itu. Senyum mengembang di wajahnya.

Andre mengaku lega ketika mengetahui Kartini tidak berniat menyerahkan dirinya dan pernah menyusuinya selama empat hari.

“Saya tahu ia tidak berniat menyerahkan saya,” kata Andre.

Dalam kunjungan yang berlangsung sekana satu pekan, Andre tampak ingin lebih jauh mengenal keluarganya, melalui makanan, kebiasaan dan pekerjaan mereka, antara lain ikut ke sawah dan melihat pembuatan batu bata, yang menjadi pekerjaan sehari-hari kakak dan adiknya.

“Saya akan belajar bahasa Indonesia, sehingga bisa berkomunikasi secara langsung ketika saya kembali lagi (ke sini) tahun depan,” kata Andre. (*/goy)

Editor:
Tags
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
- Advertisement -


Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional