[Kolom] Apresiasi, Kritik dan Doa 337 Tahun Kota Bandar Lampung

Rodi Ediyansyah

Sebagai orang yang lahir, besar dan menetap di kota Bandar Lampung, tentu secara umum kami mengikuti segala proses perkembangan dan pertumbuhan di kota ini. Mulai dari sekolah dan ke pasar berjalan kaki, kemudian menggunakan fasilitas angkot, hingga sekarang dimanjakan dengan kemudahan akses transportasi via aplikasi, Alhamdulillah sudah kami alami.

Kota ini tumbuh sangat pesat, apalagi di sektor pembangunan. Jalan layang, pemukiman, cluster perumahan, ruko, mall, hotel, rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, hingga cafe dan restoran berjejer dari mulai pusat hingga pinggiran kota.

Kota Bandar Lampung kini telah berusia 337 tahun, hampir memasuki usia 3 setengah abad. Ini adalah usia yang sangat matang bagi sebuah daerah. Terlebih lagi Bandar Lampung adalah ibukota Provinsi, tentu kota ini selalu menjadi barometer bagi kota dan kabupaten lain yang ada di Provinsi Lampung.

Karena “positioning” kota Bandar Lampung sangat penting, maka kemajuan dan kesejahteraan kota ini tentu menjadi sorotan kita bersama. Kita tentu berharap kota Bandar Lampung kedepan menjadi salah satu kota metropolitan di Indonesia, kota modern yang maju, unggul namun tetap mewarisi dan menerapkan norma-norma budaya luhur dari para pendahulu kita.

Ada apresiasi, kritik dan doa yang kami berikan, sebagai kado untuk ulang tahun kota Bandar Lampung yang ke 337. Pertama sekali, kami memberikan apresiasi.

Apresiasi kepada Pemerintah kota dalam kurun waktu 10 tahun kebelakang hingga sekarang, atas segala pencapaian yang bisa dibilang cukup signifikan. Kami masih inggat pada tahu 2011, APBD Kota Bandar Lampung ada pada posisi 1,1 Triliyun, dan saat ini hampir 10 tahun dibawah kepemimpinan Herman HN, APBD kita sudah tembus diangka 2.6 Triliyun.

PAD kota Bandar Lampung juga naik amat signifikan, yang dulu ketika periode 2011 masih diangka 100an Miliyar, saat ini pada akhir tahun 2018 saja PAD Kota sudah tembus diangka 400 Miliyar. Dan direncanakan pada RAPBD 2019, PAD Kota Bandar Lampung ditergetkan mencapai angka 600an Miliyar. Ini tentu pencapaian yang sangat signifikan.

Untuk kemajuan pembangunan, diawal sudah kami singgung. 9 tahun ini, dari mulai 2011 – 2019, Bandar Lampung tumbuh amat pesat. Bila mendengar komentar dari para teman dan saudara yang mungkin hampir 5 – 6 tahun ini tidak pernah datang ke Bandar Lampung, meraka sangat kaget dengan pertumbuhan pembangunan di kota ini.

Dari sisi program sosial, kami pun memberikan apresiasi. Mulai dari bantuan pendidikan, kesehatan, insentif RT, kader Posyandu, guru ngaji, hingga support kegiatan keagamaan sangat terasa signifikan dirasakan oleh masyarakat.

Namun, tentu tidak ada gading yang tidak retak. Dan tentunya, kitapun tidak boleh cepat berpuas diri dengan segala pertumbuhan yang kota Bandar Lampung saat ini dapatkan. Ada apresiasi kebijakan dan hasil kerja, tentu adapula kritik kebijakan dan kritik program kerja. Kritik ini tentu diberikan dengan motivasi evaluasi dan perbaikan.

Ada dua kritik keras yang coba kami sampaikan sebagai kado HUT ke 337 kota Bandar Lampung. Pertama, pada sektor pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum, kami masih melihat kota ini bertumbuh tanpa ada konsep yang jelas.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka Bandar Lampung kedepan akan menjadi satu-satunya kota metropolitan yang ada di Provinsi Lampung. Ketika kita berbicara pertumbuhan, maka konsep pemerataan pembangunan dan kesejahteraan harus menjadi perhatian khusus. Disinilah prinsip keteraturan harus diterapkan.

Sebenarnya bila acaun yang digunakan sebagai payung hukum pertumbuhan pembangunan adalah Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Bandar Lampung, masalah keteraturan ini adalah hal yang mudah untuk diwujudkan.

Dalam RTRW ada bab tentang zonasi. Sehingga harusnya tidak akan berdiri itu mall – mall dan tempat hiburan di zona pendidikan. Kemudian hak 30 % Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai amanah Undang – Undang juga akan menjadi program dan prioritas utama.

Karena kota Metropolitan yang menafikan ketersediaan RTH 30% dari luas wilayah, berarti siap-siap kota tersebuat akan tumbuh menjadi kota yang panas serta memiliki kualitas udara yang buruk. Seperti yang kami singgung diawal, ketika kita berbicara kota metropolitan, yang ada dibenak kita tentu adalah sebuah perwujudan kota maju, modern dan sejahtera.

Maju, modern dan sejahtera mungkin bagi sebagian pihak secara sederhana bisa saja terwakili oleh pertumbuhan pembangunan gedung-gedung pencakar langit, dan lain sebagainya. Namun bagi kami, konsep Maju, modern dan sejahtera adalah sebuah konsep komprehensif dari keseimbangan antara pertumbuhan bangunan, peningkatan kualitas SDM, serta meningkat dan meratanya taraf kesejahteraan masyarakat.

Kita dulu mungkin sering mendengar ungkapan “yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin”, tentu kita tidak ingin hal ini terjadi. Kita ingin kesejahteraan dan kemajuan kota ini merata, dirasakan dan dinikmati oleh mayoritas masyarakatnya.

Kedua, kritik kami untuk kota ini adalah terkait dengan praktek-praktek keterlibatan para aparatur kota dari tingkat eselon 1, camat, lurah hingga penggerak masayarakat dari mulai kepala lingkungan, kader posyandu, ketua RT pada politik praktis di setiap momentum pemilu dan pilkada.

Tentu sudah menjadi rahasia umum di tingkat aparatur hingga masyarakat. Bahwa praktek- praktek para pihak yang kami sebut diatas dalam politik praktis disetiap momen Pemilu dan Pilkada di daerah manapun, khususnya di kabupaten/kota di Indonesia selalu ada dan berperan cukup signifikan.

Pada proses ini ada intimidasi struktural, tawaran iming -iming jabatan, serta reward-reward yang menjadi motivasi para aparatur dan penggerak masyarakat untuk terlibat dalam politik praktis. Dan semua itu dari mulai 2013 sampai sekarang, amat kita rasakan di Kota Bandar Lampung.

Apakah hal ini bisa hilang? Kami yakin akan teramat sulit. Jangankan Pemilu dan Pilkada, yang itu melibatkan seluruh masyarakat dari berbagai kalangan. Hari ini, pemilihan rektor yang notabenya adalah zona para intelektual, fenomena yang kami singgung diatas pun berlaku di beberapa perguruan tinggi yang ada di Indonesia.

Akhirnya, inilah sedikit uneg-uneg yang bisa kami berikan sebagai kado cinta HUT 337 Kota Bandar Lampung. Sebagai masyarakat, tentu kita ingin ikut memberikan kontribusi bagi kebaikan dan kemajuan kota ini.

Bismillah, mari tetap optimis, bahwa kota ini kedepan akan lebih baik, lebih maju, lebih modern dan sejahtera. Tapi tetap, se modern dan semaju apapun kota ini kedepan, jangan sampai norma-norma agama dan budaya luhur dari pendahulu kita semakin luntur.

Kita berdoa dan berikhtiar, semoga kota Bandar Lampung kedepan menjadi kota Metropolitan yang Maju, Sejahtera dan tetap Berbudaya.

Oleh: M Imron Rosadi,
Penggerak GARBI Lampung
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer